Yap, karena lagi agak lengang jadi aku bikin event ini :3
Tiap minggu, atau bulan, atau tahun (kalo nggak lupa) aku bakal jawab pertanyaan acak dari ask.fm.
Bukan, bukan yang dari manusia. Ini khusus pertanyaan yang dari bot.
So, here we goooo...
1. Hari apa yang paling kamu sukai?
Jumat ftw. Soalnya besoknya kan Sabtu, trus lusanya Minggu. Jumat itu berasa "hari raya kecilnya orang islam". Enak banget hari Jumat itu :3
2. Apakah hal pertama yang ada dalam pikiranmu pagi ini?
Beli sepatu ._. sebenernya ini bukan pikiran random yang tetiba masuk ke kepala. Sungguh ada alasan tersendiri di balik memikirkan pengen beli sepatu ini. Sebab, semalem aku mimpi dibeliin sepatu dan emang udah pengen beli sejak sebulan yang lalu. Namun, ada saja halangannya. Mulai dari tokonya tutup lah, kebablasan :v, dan lain-lain. Sepertinya keinginan yang satu ini sudah menyusup dan mengambil tempat singgah di alam bawah sadarku...
3. Apakah satu hal yang paling kamu inginkan dalam hidup saat ini?
Pret lah ini mah udah kejawab sama jawaban nomer 2.
4. Jika kamu bisa tidak terlihat sehari, apa yang akan kamu lakukan?
IYKWIM :v
Mungkin mendekati musuh tersulit lalu menggunakan stun dan dagon...
5. Apakah kamu membutuhkan uang untuk menjadi bahagia?
Kadang enggak, kadang iya.
Ya itulah 5 pertanyaan acak dari ask.fm buat minggu ini. See you, bye..
¬¬¬¬¬¬¬
Kita adalah serangga dari tempat yang berbeda. Aku tak pernah terbang jauh dari taman bungaku yang indah. Kau pun tak pernah ada niatan untuk berpindah. Entah apa yang mendorongmu untuk meninggalkan tempat tercintamu itu. Mungkin kau kehabisan bunga untuk berteman, atau kau telah bosan dengan keadaanmu yang sekarang. Namun yang pasti, kini kau telah berada dalam perjalanan. Perjalanan untuk mencari tempat bernaung, tempat yang bukan hanya untuk singgah.
Tidak, aku tidak akan mencarimu. Terpikirkan untuk meninggalkan kampung halamanku saja tak pernah, apalagi untuk mencarimu. Aku hanya bisa menunggu. Menunggu saat aku dapat melihat sesosok serangga dari kejauhan. Menunggu saat aku dapat melihat ia mendekat dengan sendirinya. Menunggu saat ia mengatakan "Hai! Siapa namamu?" Menunggu saat ia memintaku untuk berbagi bunga dengannya.
Saat bunga itu habis sarinya, ia tidak meninggalkanku. Ia mengajakku mencari bunga lain untuk berbagi. Begitu seterusnya.
Surabaya, 11 Mei 2015 pukul 22:22 Angka 22... Angka yang cantik ya? Secantik dirimu~ Ah, gombal!
Aku senang menunggu. Menunggu adalah hal yang patut disyukuri. Setiap suara gerakan lemah jarum kecil pada jam di dinding yang kau dengar, terasa lebih bermakna dibanding pagi yang berganti malam dengan cepatnya.
Saat kau menunggu sesuatu, semuanya terasa berjalan lebih lambat bukan? Semuanya juga terasa lebih detail seakan kemampuan otak yang kau gunakan naik menjadi 20%. Engkau bisa merasakan hawa di sekitarmu memanas. Engkau merasakan lampu pada ruangan yang kau diami sekarang menjadi lebih silau cahayanya. Engkau dapat mendengarkan suara televisi yang terasa lebih keras. Semuanya menjadi lebih detail.
Bagaimana dengan Kamu?
Bukan. Pertanyaannya bukan apa yang kamu rasakan saat menunggu. Melainkan, apakah kamu senang menunggu?
"Hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang kita di atas, kadang kita di bawah." -anonim
Sebuah sajak lama yang pastinya tak asing lagi bagimu. Ada kalanya kamu termenung sendiri dalam sepi, menggalaukan masa depan. Ada saatnya kamu hanya bercermin dan terdiam, lalu berpikir "Apa salahku sehingga aku menjadi seperti ini?". Ada juga waktunya kamu menyesali masa lalumu yang kelam dan rasanya ingin kamu kubur dalam-dalam bahkan kamu hilangkan dari ingatan.
Hingga kenangan yang akan berbicara dan mengungkap semuanya di sudut pikiran. Tak ada yang tahu, hanya kamu dan Yang Maha Mengetahui. Semua itu wajar. Sewajar dedaunan kering yang jatuh dari pohon saat tertiup angin. Sewajar air yang mengalir dari sungai ke laut. Sewajar itu.
Jika semua itu wajar, namun mengapa ada sakit yang kamu rasakan? Bukan pada organ tubuhmu yang bekerja memompa darah setiap waktu. Bukan pada organ tubuhmu yang mencerna berbagai jenis enzim. Melainkan di dalam dada, yang kamu tak bisa memegang tempat sakitnya, namun tetap terasa tiap kali kamu menghirup napas. Rasanya sesak, seperti dililit dengan tali yang sangat kuat ikatannya. Tali itu terikat kencang sekali di tubuhmu hingga kamu tak bisa berkutik. Ingin kamu ucapkan "Tolong aku!" namun yang terdengar hanyalah suara napas yang tersendat.
Surabaya, 15 Maret 2015 pukul 13:10
Saat suara jatuh gemericik air dari langit menyapa dengan merdunya.
Ingin ku tangkap mereka dan ku bawa bersamaku menemuiMu
Namun Kau belum merindukanku
Jadi aku hanya sabar menunggu dalam teduhnya hujan siang ini
Kau masih marah padaku. Aku tahu ini terjadi karena kesalahanku. Aku terlalu naif. Maaf, aku sudah pernah bilang bukan? Hal buruk akan tetap terjadi, meskipun kau mempercayai mereka atau kau memilih lebih percaya padaku. Aku tidak tahu bahwa kejadian kemarin akan berdampak sebesar ini. Mungkin, aku memang tidak lebih berharga dibanding apa yang telah hilang semalam.
"Udah kamu telpon cateringnya sayang?" Suara bass terdengar dari hp yang digenggam Ina.
"Udah dong! Pokoknya kamu tenang aja, semuanya udah siap!" Kata Ina kepada pemilik suara di seberang sana yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya.
"Oke, makasih ya, kamu emang yang terbaik!" Kata Bimo yang kini sukses membuat pipi Ina merona.
"Sama-sama, kamu masih di kantor? Udah jam 11 nih, nggak pulang?" Tanya Ina khawatir.
"Iya abis ini pulang, ini masih nungguin Eva."
Eva. Wanita itu lagi. Sepertinya memang keputusan yang salah membiarkan Bimo tetap berhubungan dekat dengan mantan kekasihnya itu. Eva memang bukan wanita jahat, namun Ina dapat melihat kedekatan Eva dengan Bimo bukan tidak ada apa-apanya. Eva jelas masih memiliki perasaan terhadap Bimo, terbukti dari sikapnya yang masih menggantungkan diri pada Bimo. Apa-apa Bimo.
"Oh gitu... Yaudah cepet pulang, nanti langsung istirahat ya, dah." Jawab Ina sinis, ingin melihat apa Bimo menyadari ada kecemburuan di nada bicaranya.
"Oke sayang, bye." Telepon diputus, sepertinya Bimo gagal menangkap kode dari Ina.
"Udah ah, cengeng banget sih!" Ina merutuki dirinya sendiri.
Akhir-akhir ini Ina menjadi lebih cengeng dari biasanya. Bagaimana tidak? Bimo lebih sering bersama Eva di kantor dibanding ke rumah Ina. Pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan di rumah tiba-tiba menjadi wajib dikerjakan di kantor hanya karena Eva meminta bantuan Bimo di kantor.
"Sebenernya yang mau nikah gue, apa elu sih Va?" Tanya Ina pada langit-langit kamarnya yang perlahan menjadi gelap karena Ina menutup matanya.
Mungkin rasa itu mulai pudar
Seiring dengan kehadiranku
Mungkin hatimu tak lagi bergetar
Saat bertemu pandang denganku
***
"Sayang, hari ini jadi kan nemenin aku fitting?" Kata Ina kepada Bimo yang sedang bekerja di kantor.
"Iya jadi dong, aku pulang cepet kok hari ini. Mungkin jam 2 siang aku udah cabut dari kantor. Kamu di rumah? Mau aku jemput atau gimana nih?"
Biasanya yang keluar dari mulut Bimo adalah "Aku jemput ya nanti." Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
"Aku berangkat sendiri aja deh." Jawab Ina yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Oh oke kalo gitu, yaudah bye."
Dingin. Hanya itu yang dirasakan Ina dari Bimo. Di saat semuanya telah dipersiapkan, mengapa justru ini yang ia dapatkan? Entahlah, ia juga tidak tahu.
Mungkin hatimu telah berubah
Seperti es batu yang keras dan dingin
Mungkin aku harus menyerah
Walau sulit dan rasanya tak ingin
***
"Sayang kamu dimana? Aku udah di butik nih."
"Iya, udah di jalan kok. Sekitar 5 menit lagi nyampe."
"Bim, AC-nya aku kecilin ya?" Terdengar suara wanita di balik telepon.
"Sayang, itu siapa?"
"Ini aku lagi sama Eva sayang, katanya dia mau belanja di supermarket deket butik, yaudah sekalian aja."
Bagus. Semuanya lancar sekali. Lancar, sangat lancar.
"Oh... Emang dia nggak bawa mobil sayang?" Tanya Ina dengan hati-hati, berusaha tidak terdengar sinis.
"Nggak sayang, dia tadi naik taksi ke kantor. Nanti pas pulang kita anter gimana?"
"Oh, iya kita anter aja. Oiya, kata orang butiknya bajunya boleh dibawa pulang. Jadi aku bawa baju kita aja ke rumahku, kamu temenin Eva dulu aja ke supermarket. Aku pulang duluan ya, bye!"
"Lho, sayang? Ha.. Halo? Halo sayang?"
"Kenapa Bim? Marah ya si Nyonya besar?"
"Iya nih, gimana dong?"
"Santai aja kali, cewek emang gitu. Kalo lu kejar dia malah makin jadi ntar, selo, biarin aja. Ntar juga tenang sendiri."
"Gitu ya? Ok deh. Tadi cerita sampe mana?"
"Oiya! Itu si Alvin..."
Mungkin kau tak menyadarinya
Saat ukiran di hatimu telah berganti nama
Mungkin akhirnya semua berbeda
Karena sikapmu tak lagi sama
***
Tok tok tok. Ina sudah bisa menebak siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk."
"Hai." Suara itu tak ingin didengar oleh Ina.
"Hai, itu bajunya. Coba aja dulu, aku udah. Pas kok. Aku keluar dulu." Tanpa panjang lebar, Ina keluar dari kamar dan menutup pintu. Ina lelah dengan semua ini. Lelah dengan perubahan sikap Bimo. Lelah dengan Eva yang terus menempel pada Bimo. Lelah dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menerima keadaan ini. Ina berlari ke kamar kecil. Ia menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ina tidak tahu harus berbuat apa.
"Apa harus aku lepas?" Tanyanya pada diri sendiri. Ya, mungkin ini jalan yang terbaik. Ina akan dengan ikhlas melepaskan lelaki yang mungkin seharusnya memang bukan untuk Ina. Ia menghapus air matanya, memegang knop pintu dan memutarnya. Namun, seketika ia merasakan kepalanya sangat berat. Ina terjatuh.
Mungkin inilah yang terbaik
Bak angin yang bertiup tak terlalu kencang
Ia mengantarkanmu ke hati yang lain
Membuatmu sedikit lebih tenang
***
3 hari kemudian
"Udah siap semuanya?"
"Udah dong, hehe. Siapa dulu, Eva gitu."
"Dasar kamu ini, makasih ya."
"Sama-sama sweety."
"Va, geli."
"Hahahaha, bercanda sayang."
"Itu lebih geli lagi. Bajunya udah dipake?"
"Udah dong. Pas banget! Lebih bagus dari baju yang kemarin dicoba sama Ina!"
"Wah, pasti cantik banget dong?"
"Iyalah, ceweknya siapa dulu dong, Bimo gitu."
"Apaan sih, haha. Ini udah di lobby, aku tutup dulu."
"Okeeeee!"
Mungkin aku yang tak mengerti
Salahku padamu terlalu banyak
Namun kau tetap memberi arti
Dalam lautan hidupku yang berarak
***
"Saya terima nikahnya Revalina Anjani binti Suryo Hutomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Alhamdulillah."
Haru biru menghiasi akad nikah pagi itu. Hari itu, dua insan telah disatukan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Mereka berdua bahagia, semua orang di dalam ruangan berukuran 7 x 5 meter itu pun turut bersuka cita. Sang pria mencium kening istrinya dengan hangat.
"Maaf ya, selama ini aku banyak salah ke kamu. Maaf. Maaf ya sayang. Aku bodoh nggak bisa ngelihat kalo kamu butuh aku banget. Maaf."
"Nggak apa-apa. Aku juga minta maaf sering bikin kamu bingung, maaf ya."
"Cieee dunia milik berdua, nggak nyadar nih pada ngeliatin?"
"Haha bisa aja lu Va."
"Makasih ya Va udah ngurusin persiapan pernikahanku sama Bimo." Kata Ina kepada Eva.
"Nggak apa-apa Na, gini doang gua mah jagonya hehe. Selamat ya!" Eva memeluk tubuh lemah Ina.
"Oiya, kata dokter besok kamu baru boleh pulang. Aku temenin disini ya nanti malem? Resepsinya kalo kamu udah pulih aja." Kata Bimo, suami Ina.
"Iya Na, gua temenin juga. Tapi cuma bisa sampe sore, biasa, si Alvin ngajak keluar."
"Oiya, undangannya jangan lupa ya, hahaha."
"Apaan sih Bim, masih lama kali. Dia masih kuliah juga, nunggu lulus dulu."